KELUARGA MERUPAKAN YANG PERTAMA DAN UTAMA
Cerita Inspirasi dari hati
Di masyarakat kita dikumpulkan oleh banyak orang yang berbeda ras, kepercayaan dan latar belakang yang berbeda. Setiap orang pasti memiliki kisah yang bermacam-macam. Kisah atau kejadian di masa lalu itu membantu membangun karakter tiap orang. Penting nya kesadaran kita akan perbedaan itu, tidak semua orang mengalami hal yang sama seperti yang kita alami.
Dan inilah aku dan kisahku yang ingin kubagikan kepada kalian.
Kehidupan ku terlihat normal,tinggal bersama keluarga, ayah sebagai kepala keluarga, ibu dan kakak laki-laki ku. Setidaknya hingga kelas 3 SD. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2008 sepulang dari Jogja bersama ayahku. Terdengar kabar bahwa ibuku terlibat dalam masalah rumah tangga orang lain sebagai pihak ketiga. Saat itu suasana rumah menjadi kurang harmonis. Hal ini terulang hampir setiap hari, perkelahian serta pertengkaran antar kedua orang tuaku terjadi.
Aku sendiri saat itu masih berusia 9 tahun dan kakakku 12 tahun, apa yang bisa kami lakukan? diam dan memendam semuanya. Hal yang sangat kami harapkan adalah ketika
kakek atau nenek kami berkunjung ke rumah dan mengajak kami menginap di rumah mereka. Nasib ku pun menjadi tak tentu ketika ayah sering tidak pulang kerumah dan ibu pergi bersama kekasihnya yang notabene suami orang.
Perdebatan antara keluarga dan ayahku yang keras kepala terjadi dimaksudkan untuk meminta kejelasan mengenai masa depanku dan kakakku. Hasilnya ayahku merasa tak mampu lagi membiayai aku dan kakakku. tepatnya tanggal 20 Februari 2008 hari dimana aku dijemput awal dari sekolah dan ketika pulang melihat bendera putih terpasang di depan gang rumah kakek dari ibuku. Pesan terakhir dari kakekku adalah buatkan 2 kamar baru untuk anak-anaknya. Yang diartikan bahwa beliau meminta aku dan kakakku pindah ke rumah kakekku. Sejak 4 SD hingga 1 SMP biaya pendidikan dan hidup ditanggung oleh nenekku dan adik-adik dari ibuku (3 orang adik perempuan). Pada tahun 2010 pagi-pagi benar ada seorang tukang koran yang datang membawa kabar bahwa ibuku berurusan dengan polisi. Berita mengenai ibuku sontak tersebar luas baik di lingkungan tempat tinggal ku,gereja dan sekolah. malu pasti, dan sangat malu saat itu tapi aku memilih tetap meneruskan sekolah dasar di lawang hingga selesai. Dimana ayahku? beliau bekerja di luar pulau hingga kini dan pulang kerumah ibunya,ia kembali dari pekerjaan kurang lebih 2 bulan sekali.
Melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang dengan harapan meninggalkan lingkungan Lawang yang kurang nyaman dan menghindari isu/kabar negatif dari ibuku
yang saat itu terus berulah dan menarget orang yang yang kenal dengan kami seperti orang gereja, teman kerja kakekku, saudara jauh di mojokerto dan lainnya. Tanggal 22 Desember 2012 nenek ku meninggal. nenek yang sudah aku anggap seperti ibu kandung sendiri. Karna kejadian itu, mungkin ayahku tersadar dan kembali mencoba untuk diterima di keluarga oleh adik-adik dari ibuku yang
sudah terlanjur sakit hati karna menelantarkan anak-anaknya. Mulai membiayai pendidikan dan mengirim uang bulanan, tapi masih berbeda rumah. Rumah yang saat ini aku tinggali berisi adik ibuku ke 3, adik ibukku ke 4, aku dan kakakku. pada 2014 kakakku memutuskan untuk berkuliah di Universitas Machung Malang di tidar. karna jarak dari rumah yang jauh kakakku memutuskan untuk nge-kost. komunikasi dengan kakakku menjadi berkurang, Kami jarang menghabiskan waktu bersama dan cenderung bertindak sesuai sudut pandang kami sendiri-sendiri.
Ketika aku mengalami yang disebut broken home, jujur aku merasa minder dan selalu membandingkan keluarga orang lain, butuh waktu untuk beradaptasi di SMA,disinilah aku dapat mulai membangun reputasi yang sempat aku sembunyikan karena citra negatif dari kedua orang tuaku. Aku sadar bahwa aku harus jadi diri sendiri, jadikanlah pengalaman pahit ini sebagai contoh yang berharga dalam hidup, caraku mengatasi broken home adalah mencari sahabat yang benar-benar dapat menjadi teman dan mentor. ada 9 sahabat yang sangat loyal hampir setiap waktu kita habiskan bersama. Mereka membantu menemukan passion dan minatku tanpa meninggalkan keluarga utama, Sahabat dekat adalah keluarga kedua yang selalu mendukung.langkah kiita mencapai masa depan. Hingga saat ini 2017 persahabat kami tetap berjalan walupun beberapa dari kami memutuskan berkuliah di luar pulau. Mengimbangi antara loyalitas sahabat dan kewajiban kita sebagai anggota keluarga adalah hal yang penting.kadang secara tidak sadar kita lalai dan secara egois menghabiskan waktu dengan sahabat, tetapi ketika kita bermasalah yang dihubungi pertama adalah keluarga
Menjaga komunikasi dan interaksi dengan keluarga juga penting karna ketika kita tumbuh dewasa kita tidak selalu ada untuk mereka, namun tetap hargailah keberadaan
mereka.
Pada tahun-tahun belakangan ini kondisi keluarga sudah mulai tertata, walaupun hanya bertiga tanpa kehadiran seorang ibu, aku jadi belajar cara menghargai perempuan. Sebisa mungkin jangan sampai kita sebagai laki-laki menyakiti perempuan bahkan jika itu teman dekat kita sendiri. Pada 2018 aku akan genap 10 tahun tinggal di rumah nenekku, banyak sekali hal yang terjadi dan ku alami disini,bibiku yang kedua telah mempunyai 2 anak dan membeli rumah sendiri, bibiku yang 3 telah menikah dan pindah ke Swedia. Berbagai pelajaran hidup telah kualami mulai dari belajar hidup mandiri,hingga di kasih tanggung jawab besar untuk meneruskan dan menjaga rumah nenekku ini. Walaupun tinggal sendiri aku tak ada masalah. Setiap kebaikan yang telah diberikan kepada kita suatu saat pasti akan ada kesempatan untuk membalasnya ada pilihanku untuk mencari kost di malang seperti kakaku, namun aku tidak memilih opsi itu, bagaimana pun juga rumah yang aku tinggali sekarang, dulu pernah menyelamatkanku, rasa berterimakasih ku adalah dengan menjaganya hingga rumah ini memiliki kejelasan nasib. Hingga saat ini di penghujung 2017, keluarga tetap menjadi prioritas utamaku, waktu terus berjalan dan kita terus bertumbuh dulu kita sebagai remaja sering merepotkan, kini waktunya kita membalas dengan sekedar kabar atau jasa kita saat diperlukan
Suatu saat nanti momen bersama keluarga akan hilang, kita akan sibuk mengurusi hidup masing-masing maka dari itu sebelum semua itu hilang buatlah itu berarti. Luangkanlah waktu bersama siapa saja yang berjasa dalam hidupmu.
Pada saat anggota keluarga kita tidak utuh, kita akan minder dan larut dalam kesedihan, tapi sampai kapan itu akan terjadi? bersedihlah tapi jangan pernah
menyesalinya. akan ada kesempatan untuk bangkit dan mengejar mimpi-mimpi kita. jadilah individu yang kuat, baik secara mental maupun fisik. Justru ketika kita berpikir
jernih apa yang telah dialami seperti broken home,salah satu anggota keluarga meinggal duluan dll. membantu kita agar mental kita tidak hancur ketika masalah lain datang
berusaha dan percaya pada diri sendiri dan sebisa mungkin tidak bergantung pada orang lain. Fokus lah membangun diri dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang-orang yang telah mencintai kita.
dan percayalah setiap orang akan dapat kesempatan untuk merubah nasibnya, aku saat ini mungkin merasa seorang diri dan aku tidak masalah soal itu, aku yakin suatu saat nanti aku dapat mewujudkan mimpi ku bekerja di mancanegara khususnya kota Ryd, di Goteborg, Swedia.
terimakasih telah membaca
- Benedictus Dicky
Komentar
Posting Komentar